Melepasmu

Selamat pagi, Kak … Seseorang yang dulu selalu kupanggil “Pangeran Ungu” di statusku. Bagaimana kabarmu? Kuharap sama baiknya denganku.

Kita memang hanya dipertemukan di dunia maya, tetapi perasaanku begitu nyata. Kau satu-satunya pria yang membuatku percaya cinta dunia maya itu nyata, bukan hanya kisah fiksi semata.

Namun, aku sering kali harus merasakan pedih, karena seolah-seolah tiada yang percaya ketulusan cintaku.

Haruskah aku punya kemampuan untuk memutar kembali waktu, Kak? Agar aku dapat kembali pada masa-masa di mana kamu masih merintis semuanya? Agar aku dapat membuktikan bahwa aku rela menemanimu dari nol dalam meraih mimpimu? Sayangnya aku tak bisa. Aku harus pasrah ditakdirkan mengenalmu saat kamu sudah memiliki semua. Strata pendidikan yang cukup tinggi, profesi yang lumayan membanggakan, dan segudang kesibukanmu yang keren itu.

Profesimu memang cukup “wow”, Kak. Tetapi haruskah kupamerkan pada mereka semua bahwa almarhum pakdeku dulu juga memiliki profesi yang sama? Supaya mereka percaya jika pekerjaan yang keren tak membuatku silau. Bukan itu pula alasanku terpukau padamu.

Namun, aku memang tetaplah salah. Seharusnya kubunuh rasaku sejak awal. Mestinya aku sadar diri bila tak mampu memutar waktu dan tak bersedia memamerkan jabatan-jabatan keluarga besarku.

Jangankan memutar waktu, bertemu denganmu saja aku tak mampu. Aku sudah pernah mencoba, tapi nyatanya gagal. Kau masih ingat? Dulu kita pernah janji bertemu di suatu kota. Mungkin bagimu itu hanya sebuah canda, tapi aku begitu bodohnya kala itu menanggapinya dengan sangat serius. Aku rela “merantau” jauh dari orang tua dan kedua adik lelakiku. Namun, kamu tiba-tiba bilang tidak bisa. Kamu sibuk. Aku pun cuma bisa menyembunyikan kekecewaanku sendiri. Bibirku mengatakan padamu, tak mengapa.

Meski begitu, waktu itu aku tetap menunggu. Baru kini aku sadari, penantianku sia-sia. Aku bahkan seperti sengaja mengurung diri sendiri dalam penjara. Rasa minder, tak pantas, cemburu, ragu, kesepian, dan semua rasa yang tak nyaman itu begitu menyiksa batinku. Belum lagi harus menghadapi tingkah “fans” kamu yang naudzubillah ….

Aku mencoba tetap tegar kala itu, karena kupikir ini hanya ujian. Aku terus menguatkan diri sembari belajar menjadi calon istri yang baik. Di sela-sela waktu kerjaku aku menyempatkan mencari dan membaca artikel-artikel yang mungkin bermanfaat kelak. Artikel keluarga, semacam bagaimana menjadi istri yang baik, ibu yang baik, cara menyenangkan suami, mendidik anak, dll. Aku copas dan save semua dalam notebook. Sampai-sampai saking seringnya baca artikel macam itu, aku hapal di luar kepala bagaimana jika … Ya, hanya jika. “Jika” yang tak akan pernah terwujud nyata.

Oh, iya! Titip salam utk keponakan-keponakan kamu yg lucu. Sosok-sosok mungil yang dulu ingin sekali kupeluk. Masih ingatkah kamu saat menceritakan mereka dengan bersemangat? Kala itu aku membatin, kelak kamu akan menjadi sosok ayah yang baik. Aku pun sempat berharap buah hatiku kelak yang beruntung memiliki ayah sepertimu. Aku membayangkan kamu akan jadi ayah yang penyayang, bertanggung jawab, dan tegas.

Titip salam juga untuk Kakak Cantik yang lebih pantas menempati posisi yang dulu selalu aku impikan. Walau aku sempat menyesalkan ketidakjujuranmu. Bukan mengetahui perasaan dan mimpi kita yang tak sama yang melukai hatiku, tetapi kenyataan jika aku harus mengetahui fakta ini dari orang lain. Bukan langsung darimu. Padahal sudah berkali-kali aku memohon kejujuranmu, Kak …

Tentu saja awalnya aku sangat murka. Namun, perlahan kucoba memahami, mungkin mengetahui kamu dicintai oleh gadis yang tampak lemah secara fisik sepertiku adalah beban berat bagimu. Mungkin kamu takut menyakitiku. Kamu tak tega menolak secara terang-terangan. Bisa jadi kamu pun sebenarnya sudah memberi sinyal penolakan halus, tetapi aku yang terlalu bodoh untuk memahami maknanya.

Ya, sudah … Tak mengapa. Semua sudah berlalu. Toh, kini aku baik-baik saja. Malahan, aku lebih bahagia tanpamu. Aku sudah menemukan teman-teman yang menyenangkan dan hobi yang seru. Aku juga merasa lebih bebas menjadi diriku sendiri.

Aku sudah merelakanmu. Terima kasih atas segalanya. Semoga kamu pun berbahagia … ^_^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s