Kejutan Sederhana

Kejutan Sederhana

Aku menggeliat. Tidak menemukan sosokmu di samping. Tampak jendela kamar ini sudah terbuka lebar. Mata terasa masih berat untuk terbuka lama. Akhirnya terpejam kembali.

“Bangun yuk, Dek. Minum ini dulu …,” bujukmu lembut, sambil mengelus pundakku yang sedang tertidur miring. Entah sejak kapan kamu berada di atas ranjang. Aku bahkan sudah tak sadar berapa lama mataku terpejam.

“Susu kehamilan lagi? Nggak mau ah! Rasanya tak enak.” Aku mulai merasa mual membayangkan terakhir kali aku meminumnya. Meski begitu, aku tetap memaksakan diri untuk bangun.

“Eh, ini beda. Aku sudah mencoba rasanya saat testi di Mall kemarin. Aku sampai diketawain mbak-mbak SPG dan ibu-ibu yang juga mau beli susu.”

Aku ingin tertawa. Namun, kutahan. Ah, betapa manisnya kamu. Dari dulu selalu begitu, tiba-tiba memberiku kejutan. Tanpa banyak janji, kamu berikan hampir semua yang aku inginkan.

Masih segar diingatanku kejadian pagi kemarin. Aku menggerutu setelah terpaksa meminum segelas susu kehamilan yang kamu belikan sebelumnya. Kamu yang sibuk sendiri dengan laptop hanya memandang sekilas, “Nanti kalau sudah terbiasa juga enak.”

“Mana bisa begitu? Tidak enak! Tetap tidak enak!” Aku cemberut. Entah kenapa, sejak hamil aku jadi bertingkah layaknya bocah. Mungkin pengaruh hormonal, seperti yang pernah kubaca dari beberapa artikel kesehatan.

Aku merasa beruntung punya kamu, yang selalu sabar dan tenang menghadapiku. “Sabar ya, Dek,” pintamu dengan suara lembut, sambil tersenyum. Senyum yang dulu selalu berhasil meluluhkanku. Namun, kala itu malah membuatku sebal.

“Senyam-senyum. Kamu pikir senyummu bisa menyelesaikan semua masalah!” Aku berbicara ketus, sembari menggerakkan kursi rodaku menjauh. Menuju kamar. Meninggalkanmu di ruang perpustakaan pribadiku. Kudengar kamu malah tertawa, membuatku membanting pintu kamar karena sebal.

“Kok melamun? Ayo diminum!” Dia menyodorkan susu itu. Bukan menerimanya, aku malah tergerak memeluk pinggangnya.

“Maaf aku lupa bagaimana sikapmu biasanya,” ujarku, nyaris menangis. Terharu. Akhir-akhir ini aku sensitif. Hidup jadi bagaikan drama.

“Sudah … Sudah … Diminum dulu ini.”

“Bentar … Bentar … Ponselku mana? Mumpung masih pagi, aku mau promosi di Istana Belanja biar banyak yang beli. Kebetulan hari ini banyak stok buku-buku keren! Semua masih bersegel, ori, dan murah meriah.”

Kamu geleng-geleng kepala, lalu meletakkan segelas susu di atas meja kecil, dan meninggalkanku sendiri.

*Cerpen gagal. Ujung2nya malah iklan. 😛 :v

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s