Selamat Jalan Josi

Semalam, ingin menulis tentang Josi. Sudah mengetik panjang sekali, sampai pukul dua dini hari. Giliran sudah mau kirim, gagal, dan hasil ketikan hilang. Facebook app memang menyebalkan. Ya sudah. Sekarang ketik lagi, pakai Opmin.

Masih tak percaya, gadis itu pergi meninggalkan kita. Gadis yang selalu ceria, bersemangat, dan optimis. Seakan hidupnya tak dibebani problema. Saya bahkan tak tahu sama sekali bila dia sakit. Dia tak pernah bercerita tentang sakit yang diderita. Dindingnya benar-benar bersih dari keluhan, apalagi ratapan. Tidak seperti kebanyakan difabel. Termasuk saya.

Saya mengenalnya beberapa tahun yang lalu. Lewat status seorang teman sesama penggemar band yang terkenal dengan lagu-lagu melankolisnya, Yovie N Nuno. Saya terpukau pada keberaniannya mengakui kondisi fisiknya yang berbeda. Di antara teman-temannya yang di mata dunia tampak memiliki fisik sempurna. Dulu, teman-teman saya kebanyakan non difabel. Sehingga saya merasa tak perlu sejujur itu. Kecuali bila ada yang menginbox untuk meminta berkenalan lebih jauh.

Selepas hengkangnya Mas Dudi, banyak TYN (Teman Yovie n Nuno, sebutan untuk para fans) yang terpecah. Kehilangan kekompakan. Dia mulai sering posting tentang Chef ganteng bernama Arjuna. Atau, Chef Marinka. Sementara saya, mulai sok akrab dengan teman-teman yang hobi menulis. Ada maunya sih… Haha … Biar bisa mencuri ilmunya. Setelah mengenal teman-teman difabel, saya semakin jauh lagi darinya.

Kabar itu tiba-tiba seperti petir yang datang di terik siang. Saya mengetahuinya saat kebetulan di beranda saya muncul postingan ucapan selamat jalan dari salah satu temannya. Sempat tak percaya. Karena sebelumnya dia tampak ceria dan baik-baik saja.

Jika waktu dapat dibalik, rasanya masih ingin menyapanya, membaca cerpen dan cerbung karyanya, dan mengajaknya memperbincangkan banyak hal.

Rasanya baru kemarin saya komentar di statusnya. Saya request Mas Dikta dijadikan tokoh utama dalam FF terbarunya. Seingat saya dia bilang, “Maaf Kak, khusus artis Korea.” Saya tersenyum sambil mengetik balasan. Saya tidak benar-benar merindukan Mas Dikta. Hanya ingin mengajaknya mengobrol, walau cuma lewat rangkaian aksara. Benar-benar tidak menyangka, itu adalah perbincangan yang terakhir kalinya.

Semoga Josephine Devina mendapat tempat terbaik di sana. Semoga keluarga diberi ketabahan. Aamiin …

Untuk Kak Selvy, semoga kita tetap kompak, dan sosok Josi akan selalu kita kenang dan menjadi inspirasi. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s